Jakarta, Properti Indonesia – Pertumbuhan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan Kredit Pemilikan Apartemen (KPA) di sebagian kota Indonesia mengalami perlambatan sebesar 7,07 persen (year on year/yoy). Hal ini tercermin dalam Hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia triwulan II 2022 yang dilakukan terhadap berbagai developer di 18 kota di Indonesia.
Kota-kota tersebut di antaranya adalah Jabodetabek, Bandung, Bandar Lampung, Banjarmasin, Denpasar, Palembang, Semarang, Yogyakarta, Padang, Medan, Makassar, Manado, Surabaya, Pontianak, Batam, Balikpapan, Pekanbaru, dan Samarinda.
Bank Indonesia mencatat pertumbuhan nilai kredit KPR dan KPA secara tahunan melambat sebesar 7,07 persen atau lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yaitu 10,61 persen (yoy). Sementara itu, penyaluran KPR dan KPA secara triwulanan terpantau tumbuh negatif sebesar -0,62 persen (qtq), terkontraksi dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh 2,20 persen (qtq).
Kemudian pencairan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) pada triwulan II 2022 tercatat sebesarRp5,98 triliun atau menurun 17,29 persen (yoy) dari triwulan I 2022 sebesar 122,01 persen. Jumlah ini juga menurun dibandingkan triwulan II 2021 sebesar 7.231(59,12 persen).
Realisasi FLPP tahun ini tertinggi di Kalimantan Barat sebanyak 16.069 unit dengan nilai realisasi FLPP Rp1,82 triliun. Lalu diikuti Kalimantan Utara sebanyak 3.752 unit (Rp425 miliar), Kalimantan Selatan 3.286 unit (Rp347 miliar), DKI Jakarta 3.216 unit (Rp341 miliar), dan Kalimantan Timur 3.020 unit (Rp317 miliar).
Bank Indonesia menjelaskan, pembiayaan non perbankan masih menjadi sumber pembiayaan utama pembangunan properti residensial oleh pengembang di triwulan II 2022, yang terindikasi dari sebesar 64,82 persen dari total kebutuhan modal pembangunan bersumber dari dana internal. Sumber pembiayaan lainnya yang menjadi alternatif pengebang untuk pembangunan rumah primer antara lain pinjaman perbankan dan pembayaran dari konsumen dengan proporsi masing-masing sebesar 21,29 persen dan 9,07 persen dari total modal. Berdasarkan komposisi dana internal, porsi terbesar berasal dari laba ditahan (48,19 persen) dan modal disetor (46,96 persen).
Sementara dari sisi konsumen, pembelian properti residensial mayoritas dilakukan melalui skema pembayaran KPR dengan pangsa pasar sebesar 74,97 persen dari total pembiayaan, diikuti oleh tunai bertahap (16,61 persen) dan secara tunai (8,42 persen).