Jakarta, Properti Indonesia – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta secara resmi meluncurkan Lomba Digitalisasi Pasar, yaitu program yang didesain untuk mempercepat proses transformasi digital dan modernisasi sistem pembayaran di seluruh pasar yang dikelola oleh Perumda Pasar Jaya.
Acara peluncuran ini ditandai dengan penandatanganan komitmen bersama antara sejumlah lembaga perbankan, termasuk Bank Jakarta, dengan Direktur Utama Perumda Pasar Jaya, Agus Himawan, Selasa (22/7). Kegiatan ini turut disaksikan oleh Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dan Sekretaris Daerah DKI Jakarta Marullah Mattali di Jakarta.
Lomba Digitalisasi Pasar adalah hasil kolaborasi strategis antara Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) DKI Jakarta, Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Perumda Pasar Jaya. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menyampaikan empat sasaran utama yang diharapkan tercapai melalui lomba ini meliputi peningkatan kesejahteraan pedagang, efisiensi dalam transaksi keuangan, optimalisasi penerimaan pajak daerah, serta upaya pemberantasan premanisme di lingkungan pasar.
"Saya yang usulkan lomba ini. Tujuannya jelas, agar pedagang akrab dengan sistem digital seperti QRIS dan EDC," terang Pramono saat memberikan keterangan di Pasar Mayestik, Jakarta Selatan. Dirinya menambahkan, digitalisasi tidak hanya menawarkan kecepatan dalam transaksi, tetapi juga berkontribusi pada peningkatan keamanan dan ketertiban dengan mengurangi peredaran uang tunai.
Pramono menegaskan bahwa digitalisasi pasar merupakan langkah strategis untuk memperkuat ekonomi rakyat dan membangun pondasi ekonomi dari lapisan bawah. Beliau juga menjamin objektivitas dalam proses penilaian lomba, dengan menyerahkan sepenuhnya tugas penjurian kepada BI dan OJK.
"Pemprov tidak ikut campur soal penjurian. Kita ingin lomba ini kredibel dan objektif," tandas Pramono.Saat ini, 20 pasar telah mengambil bagian dalam program ini, dengan target ambisius untuk mencakup seluruh 133 pasar di wilayah Jakarta. "Transformasi digital bukan lagi pilihan, tapi keharusan. Pasar harus jadi episentrum ekonomi rakyat yang bersih, tertib, dan berdaya saing," tegasnya.
Bank Jakarta Targetkan Layani 4.012 Tempat Usaha Pedagang
Sementara itu, Direktur Utama Bank Jakarta, Agus H. Widodo, menyatakan komitmen penuh lembaganya dalam mendukung program pemerintah ini. Menurutnya, digitalisasi sektor pasar tradisional merupakan komponen krusial dalam pembangunan ekonomi perkotaan yang modern dan inklusif.
“Bank Jakarta melihat digitalisasi pasar sebagai momentum untuk menghadirkan ekosistem transaksi yang lebih efisien, transparan, dan terjangkau. Kami mendukung penuh program ini sebagai bentuk kontribusi nyata terhadap pertumbuhan ekonomi lokal Jakarta,” jelas Agus.
Tak hanya itu, dalam kerangka aspek digitalisasi perbankan, Bank Jakarta juga diberi mandat untuk mendampingi empat pasar yang telah ditentukan berdasarkan pemetaan kelas dan jumlah tempat usaha (TU), diantaranya; Pasar Mayestik (Kelas A) dengan 1.516 TU; Pasar Koja Baru (Kelas B) dengan 1.056 TU; Pasar Cengkareng (Kelas B) dengan 1.065 TU; dan Pasar Pondok Bambu (Kelas C) dengan 375 TU. Secara keseluruhan, Bank Jakarta akan melayani 4.012 tempat usaha dalam pelaksanaan program ini.
Performa Bank Jakarta akan dievaluasi dalam tiga kategori utama yaitu Literasi Terbaik dan Teraktif (periode penilaian 21 Juli – 9 Agustus 2025); Akses Keuangan Termasif (periode penilaian Januari – 9 Agustus 2025); dan Digitalisasi Keuangan Terbaik.
"Transformasi pasar bukan hanya agenda pemerintah, tapi juga komitmen bersama seluruh pelaku ekonomi. Bank Jakarta siap menjadi bagian penting dari perubahan ini," tambah Agus.
Sejalan dengan pernyataan tersebut, Direktur Utama Perumda Pasar Jaya, Agus Himawan, menambahkan bahwa aspek kebersihan dan pengelolaan limbah juga menjadi faktor penilaian utama dalam lomba ini. “Pasar modern itu bukan cuma cashless, tapi juga bersih dan tertata,” ujarnya.
Penunjukan BI dan OJK sebagai tim juri lomba dianggap sebagai penanda arah baru pembangunan ekonomi lokal yang berbasis teknologi. “Digitalisasi pasar ini game changer sesungguhnya. Bukan sekadar inovasi, tapi strategi sistemik untuk memperkuat literasi keuangan dan inklusi digital,” pungkas Agus Himawan.
Sekretaris Perusahaan Bank Jakarta, Arie Rinaldi, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menyiapkan langkah-langkah konkret untuk mendukung program ini, mulai dari edukasi langsung kepada para pedagang, aktivasi layanan QRIS, pembukaan rekening digital, hingga integrasi layanan perbankan dengan ekosistem pasar. “Kami optimistis bisa menunjukkan performa terbaik dalam hal literasi dan adopsi keuangan digital,” tutup Arie