Jakarta, Properti Indonesia – Kawasan industri di wilayah Jabodetabek menjadi salah satu subsektor properti yang pertumbuhan pasokannya cukup stabil meski di tengah pandemi Covid-19. Leads Property Services Indonesia mencatat, total pasokan kumulatif lahan industri di wilayah Jabodetabek dan Jawa Barat tercatat sebesar 12.907 hektar atau mengalami penambahan sebesar 175 hektar.
Hal ini seiring terjadinya penambahan pasokan lahan industri yang dilakukan developer untuk merespon potensi permintaan dari beberapa calon pembeli dari berbagai sektor industri. Pasokan lahan terbesar terdapat di area Bekasi-Karawang dan Purwakarta dengan proporsi sekitar 74% dari total pasokan. Adapun, area timur Jakarta terus menjadi lokasi yang paling menarik bagi para pengusaha ataupun investor.
Dari sisi permintaan atau penjualan lahan, pada kuartal 2 tahun 2021 terdapat transaksi sebesar 50 hektar, dengan total permintaan kumulatif sebesar 11.784 hektar, atau bertumbuh 0,43% dari kuartal sebelumnya. Transaksi lahan berasal dari berbagai sector seperti data center, suku cadang terkait otomotif, chemical dan consumer goods (FMCG). Transaksi lahan tersebut berasal baik dari investor baru maupun perusahaan yang melakukan ekspansi.
Dari sisi harga, pertumbuhan harga jual lahan relatif stabil, yaitu tercatat di angka Rp 2.778.000 per m2, atau bertumbuh hanya sebesar 1,17% saja dari kuartal sebelumnya. Hal ini disebabkan karena adanya permintaan yang lumayan banyak di kuartal 2 2021. Meski begitu, tingkat penjualan pada kuartal 2 2021 tercatat turun sebesar 0.87 poin dari kuartal sebelumnya menjadi 91,30% oleh karena tidak seluruh penambahan pasokan terserap.
“Ke depannya, permintaan lahan industri diperkirakan datang dari data center, produk suku cadang terkait otomotif, dan FMCG, khususnya produk higienis. Karena itu, developer patut mewaspadai dalam menaikkan harga lahan industri mereka hingga akhir tahun ini,” ujar Martin Samuel Hutapea, Research & Consultancy Department Leads Property Services Indonesia akhir pekan lalu.