Jakarta, Properti Indonesia – Perusahaan konsultan properti global Jones Lang LaSalle (JLL) menjelaskan bahwa volume investasi real estat di kawasan Asia Pasifik diperkirakan akan turun dengan rage penurunan mencapai 5-10 persen pada tahun 2023.
Penurunan tersebut melanjutkan penurunan sebesar 25 persen secara tahunan pada 2022, hal ini karena sikap optimisme beralih menjadi kehati-hatian seiring memburuknya sentimen pasar akibat gejolak ekonomi dan keuangan.
“Optimisme yang dipicu oleh ekspetasi bahwa pandemi akan segera berakhir perlahan beralih menjadi sikap kehati-hatian di tengah kekhawatiran tentang inflasi, suku bunga, dan geopolitik. Meskipun kawasan Asia Pasifik cenderung lebih baik karena permintaan domestik yang kuat, kawasan ini tidak akan luput dari tantangan yang lebih luas,” ujar Roddy Allan, Chief Research Officer Asia Pasifik JLL dalam laporannya, dikutip Kamis (29/12).
Namun, untuk industri perhotelan justru akan mengalami peningkatan sebesar 6 persen pada tahun depan, seiring dengan pelonggaran akibat pandemi Covid-19 yang terus dilakukan di berbagai negara. Meskipun terjadi perlabatan pada sejumlah sektor, kalangan investor akan tetap melihat ke sektor-sektor lain yang memiliki potensi penarik struktural dan keuntungan yang lebih tinggi seperti pusat data, logistik, pengembangan kawasan mixed-use, dan sebagainya.
JLL mencatat sejumlah proyek greenfield yang terjadwal di negara-negara berkembang seperti India hingga kawasan Asia Tenggara. Kemudian di Jepang akan menjadi negara tujuan investasi utama didukung dengan pelemahan Yen dan suku bunga yang rendah.
Selanjutnya, Singapura masih sebagai kawasan yang aman dan fundamental properti yang sehat sehingga terus menarik modal investasi. Sementara di Australia memiliki karakteristik baik untuk investor.