Jakarta, Properti Indonesia – Konsultan properti Colliers Indonesia dalam laporan terbarunya menyatakan kinerja sektor industri saat ini relatif sudah menunjukkan pemulihan. Pada kuartal II 2022, penjualan lahan industri di Jakarta tercatat lebih rendah dibanding kuartal I 2021 dengan data sementara sebesar 37,68 hektar.
Senior Associate Director Research Colliers Indonesia Ferry Salanto mengatakan, meskipun lebih rendah, penjualan pada kuartal II 2022 sudah hampir 50 persen dari tahun sebelumnya. Jika penjualan sudah 50 persen sampai pertengahan tahun ada kemungkinan akan bisa lebih baik lagi karena transaksi biasa terjadi di semester kedua setiap tahunnya.
“Data penjualan sampai kuartal II 2022 hampir 50 persen dari tahun sebelumnya, ada kemungkinan lebih baik lagi karena biasanya transaksi itu terjadi di semester kedua setiap tahunnya,” ujar Ferry dalam virtual media briefing kuartal II, Rabu (6/7) lalu.
Colliers juga mencatat kawasan-kawasan industri yang aktif selama kuartal II 2022 di antaranya KIIC, Karawang New Industry City, Suryacipta, Griya Idola, Krakatau Industrial Estate Cilegon, Modern Cikande, dan Jababeka. Penjualan selama kuartal kedua ini paling banyak terjadi di Karawang dengan didominasi perusahaan data center.
Sementara itu, untuk harga lahan industri tidak mengalami penyesuaian. Pengelola saat ini tidak menaikkan harga sampai akhir tahun, meskipun ada kemungkinan penyesuaian harga di kawasan dengan penjualan yang konsisten. Kemudian sektor logistik dan data center berbasis high-tech masih akan terus menopang penjualan di kawasan industri. Sektor-sektor lain yang masih akan aktif menyerap lahan adalah automotif yang terkait dengan teknologi electric vehicle, energi, makanan dan kimia dasar.
“Yang menarik sampai kuartal kedua, saat ini dominasi sektor data center cukup besar. Paling banyak penjualan data center di KIIC dan Suryacipta. Sehingga data center mendominasi sepertiga penjualan saat ini. Logistik tetap konsisten, masih banyak perusahaan-perusahaan di industri apapun memerlukan logistik pergudangan baik penyimpanan maupun untuk keperluan distribusi,” jelas Ferry.
Selanjutnya, pasokan lahan industri di Surabaya terbagi menjadi tiga area yaitu Pusat, Selatan, dan Utara. Pusat meliputi daerah Surabaya, Selatan mencakup Mojokerto, Ngoro, Pasuruan, dan Sidoarjo. Sementara di Utara meliputi Gresik dan Turban. Colliers mencatat per semester I 2022 belum ada pasokan baru untuk area industri di Surabaya dan sekitarnya.
Total lahan yang tersedia saat ini sebanyak 3.118 hektar yang mayoritas terletak di area Utara dan Selatan Surabaya. Dengan perkiraan pasokan baru sebesar 320 hektar di Mojokerto dan Sidoarjo, dan 600 hektar di Gresik yang merupakan hasil dari reklamasi.
Adapun penjualan lahan industri di Surabaya cenderung terbatas karena terbatasnya permintaan, kecuali di JIIPE. Terdapat total lahan terjual hingga saat ini mencapai 69 persen atau sebesar 1.452 hektar. Pada kawasan utara, terutama Gresik merupakan destinasi investasi terbanyak yang dipilih para investor.
“Ke depan, wilayah Gresik kami perkirakan akan menjadi destinasi investasi utama di luar negeri karena lahan yang tersedia masih banyak dan kawasan Gresik merupakan ‘rumah’ dari industri manufaktur,” ungkap Ferry.
Dari segi harga lahan industri di Greater Surabaya berkisar dari Rp1,35 juta hingga Rp7,5 juta. Variasi harga lahan industri ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti aksesibilitas, jarak mendapatkan sumber bahan baku, dan kemudahan jalur transportasi ke pelabuhan dari bandara. Untuk kawasan industri yang hampir habis atau sudah habis lahannya, mengambil pendapatan dari service charge dan biaya servis utilitas seperti distribusi aliran listrik dan pengelolaan air limbah.
Kemudian untuk kawasan pergudangan di Surabaya, terpusat di daerah Osowilangun, Tanndes, Margomulyo dan Kaliana. Mayoritas pergudangan ini masih berupa bangunan gedung tradisional, sementara kawasan pergudangan modern masih terbatas hanya dari lima proyek dengan total luas 200.000 m2. Harga sewa pergudangan modern sekitar Rp65 ribu hingga Rp75 ribu per meter persegi per bulan, dan pergudangan tradisional sekitar Rp25 ribu hingga Rp45 ribu per meter persegi per bulan.