Jakarta, Properti Indonesisa – Pesatnya perkembangan digitalisasi pada multi sektor membuat keberadaan perusahaan teknologi terus bertumbuh dan memberi dampak pada meningkatnya permintaan properti, khususnya sektor perkantoran di kawasan Asia Pasifik.
Managing Director Occupier Services Colliers Asia, Sam Harvey-Jones, dalam laporan terbarunya mengatakan bahwa sektor teknologi merupakan pendorong utama naiknya permintaan sewa kantor di kota-kota besar di Asia Pasifik.
“Permintaan dari penggunan teknologi di perusahaan multinasional menjadi prioritas. Kami berharap perusahaan teknologi di Asia Pasifik dapat menaikkan permintaan ruang kantor utama selama lima tahun ke depan,” ujar Sam dalam laporan hasil riset Colliers yang dikutip Properti Indonesia, Kamis (24/6).
Saat ini, teknologi sudah menjadi salah satu sektor bisnis yang paling penting secara global dan telah membentuk 65% dari 20 perusahaan publik teratas dunia berdasarkan kapitalisasi pasar. Menurut Sam, pihaknya memperkirakan pengguna teknologi akan menyumbang 20% hingga 25% dari total permintaan sewa kantor di wilayah Asia Paifik selama 5 tahun ke depan.
Sementara itu, Managing Director, Capital Markets & Investment Services Colliers International Terence Tang menjelaskan, perusahan teknologi besar, terutama dari China saat ini sudah sangat aktif berinvestasi dan melakukan pengembangan properti di seluruh kawasan Asia Pasifik. Menurutnya, perusahaan-perusahaan tersebut telah mejadi kelas baru utama dari pemilik maupun penghuni properti.
“Kami bekerja sama dengan kelompok penghuni ini maupun dengan pemilik properti dalam memberikan saran untuk memposisikan ulang aset yang sudah lama dan melakukan pembangunan kembali,” tuturnya.
Hal tersebut untuk memenuhi kebutuhan pekerjaan yang ada di masa mendatang seperti perusahaan teknologi yang mencakup kantor, logistik, fasilitas pergudangan, dan pusat data. Tahun lalu, perusahaan teknologi telah berhasil mengakuisisi aset real estat Asia Pasifik sejumlah Rp144,4 triliun.
Kota-kota seperti Beijing, Shanghai, Bengaluru, Shenzen, dan Singapura masuk ke dalam peringkat lima besar pusat teknologi di Asia Pasifik. Pengembang di lima kota tersebut menawarka properti yang tidak hanya memiliki infrastruktur bagus, namun memiliki keunikan sehingga menarik minat penyewa.
Kota lain seperti Seoul dan Hong Kong juga mengalami perkembangan pesat dalam bidang teknologi terutama di sektor fintech. Kemudian pusat teknologi baru juga bermunculan seperti Hyderabad dan Sydney.
“Investor harus mempertimbangkan perusahaan teknologi sebagai pembeli alternatif untuk aset yang telah tua dan mengembangkannya kembali,” kata Terence. Dirinya mengatakan, pemilik properti pada pergudangan, logistik, dan pusat data dapat mempertimbangkan usaha patungan untuk mengembangkan aset properti yang ada. Sementara investor dengan modal pasif dapat berinvestasi dalam dana real estat yang didirikan oleh perusahaan teknologi yang terbuka untuk dana pihak ketiga.