Jakarta, Properti Indonesia – Konsultan properti Colliers Indonesia dalam laporan terbarunya menyebutkan bahwa selama kuartal III tahun 2022 tidak ada gedung perkantoran baru yang beroperasi di kawasan Central Business District (CBD) maupun di luar CBD Jakarta. Terdapat pasok kumulatif sekitar 7,04 juta meter persegi di CBD dan 3,69 juta meter persegi di luar CBD.
Head of Research Colliers Indonesia, Ferry Salanto, mengatakan terdapat beberapa proyek perkantoran mengalami kemunduran jadwal penyelesaian dari tahun ini menjadi tahun depan. Colliers memproyeksikan masih memungkinkan terjadinya pergeseran penyelesaian beberapa gedung kantor, dan pasokan akan terus bertambah hingga tahun depan, kemudian mulai melambat di tahun 2024.
“Selama kuartal III lebih banyak permintaan ruang kantor. Tidak hanya lokal, perusahaan internasional, terutama dari logistik dan manufaktur mulai aktif mencari ruang kantor. Keberadaan holding baru BUMN terutama dari sektor energi terbarukan. Gedung dengan net zero emission regulation menjadi syarat utama mereka,” ujar Ferry dalam paparannya, Rabu (5/10).
Selain itu, tarif sewa ruang kantor di CBD pada kuartal ini sekitar Rp234.342 dan di luar CBD Rp176.711. Kemudian tarif sewa kantor premium dan grade A cenderung stabil. Lanjut Ferry, saat ini masih tenants’ market, pemilik gedung masih harus terus adaptif dan fleksibel.
“Rata-rata sewa akan mengalami peningkatan, di mana akan banyak gedung kelas premium dengan tarif sewa di atas rata-rata keseluruhan. Formulasi penetapan harga sewa dan service charge masih bisa terus berubah untuk beberapa gedung baru,” imbuh Ferry.
Ruang kantor fleksibel atau co-working space juga kemungkinan terus berlanjut. Karena sebagian besar penyewa sudah terlanjur mengurangi luas kantor, dan akan bertahan dengan skema revenue sharing atau joint venture. Adapun saran untuk pemilik gedung yakni tetap fleksibel dan mengakomodasi kebutuhan penyewa, dan untuk penyewa saat ini masih waktu yang tepat untuk relokasi atau renewal dengan paket sewa yang kompetitif.
“Co-working space dengan skema casual lease mulai mengubah cara operasinya. Revenue sharing atau joint venture modelling lebih diinginkan oleh operator co-working space,” katanya.