Jakarta, Properti Indonesia – Pengembang properti, PT Indonesian Paradise Property Tbk (INPP) atau Paradise Indonesia berhasil membuktikan komitmennya dengan menyelesaikan pengambilalihan dan pembangunan proyek apartemen Antasari Place (sebelumnya 45 Antasari) yang sempat mangkrak dan kini telah hampir seratus persen diserahkan kepada konsumen.
Presiden Direktur dan CEO INPP, Anthony Prabowo Susilo, menuturkan perjalanan panjang akuisisi dan penyelamatan proyek tersebut. Menurutnya, ini bisa jadi merupakan salah satu kisah sukses pengambilalihan proyek dengan proses homologasi yang diselesaikan seratus persen di Indonesia.
"Kami diundang sebagai investor pada 2020. Setelah mendapatkan restu dari pengembang sebelumnya dan krediturnya. Proposal dan investment plan kami diterima pada Maret 2021 dan akuisisi selesai pada September-Oktober 2021," jelas Anthony dalam pertemuan dengan media di Jakarta, Rabu (17/9). Dirinya membeberkan bahwa yang menjadi kunci keberhasilannya adalah menekankan transparansi dan komitmen.
"Saya selalu terbuka, tidak menutupi apa-apa. Sampai hari ini, happy to report kami telah menggenapi bisa dikatakan 100 persen apa yang sudah kami commit di homologasi. Jadi kami bukan hanya memberikan janji, tapi berbagai janji itu sudah terwujud," tegas Anthony.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama PT Prospek Duta Sukses, A.H. Bimo Suryono, yang kini berada di bawah naungan INPP, mengakui bahwa dunia properti tidak bisa hanya dengan berjanji. Dirinya mengisahkan, bahwa kondisi pasar properti saat proyek ini pertama kali diluncurkan sebetulnya dalam kondisi on fire. Namun, karena sesuatu hal, target malah tidak terpenuhi dan konsumen kecewa.
"Saat itu kami masuk dengan menawarkan satu proposal yang akhirnya diterima oleh mayoritas konsumen sesuai putusan homologasi. Fakta bahwa proyek ini selesai adalah sesuatu yang luar biasa. Padahal sebelumnya, banyak dipertanyakan orang. Sekarang di bawah INPP sudah dibuktikan proyek ini selesai," tambah Bimo.
Rencana Tower Kedua
Anthony mengungkapkan, dari 980 unit di Tower 1, sebanyak 175 unit telah dialihfungsikan menjadi service residence dengan brand Citadines Antasari Jakarta, sehingga unit yang tersisa untuk dijual tinggal 105 unit. "Antasari Place tahun ini pecah record dari sisi penjualan," klaimnya.
Untuk menangani konsumen dari developer sebelumnya, INPP memberikan beberapa opsi, termasuk pengakuan uang muka dan opsi penggabungan unit. Meski menurut aturan homologasi seharusnya hangus jika telat bayar, akan tetapi manajemen masih memberikan kebijakan potongan 20% bagi yang ingin melanjutkan.
Mengenai Tower selanjutnya, Anthony menyatakan masih dalam tahap perencanaan matang. "Lagi kita racik, lagi kita pikirin mau dibangun seperti apa, apakah 2 Bedroom, 3 Bedroom, kita lihat marketnya," ujarnya. Anthony menambahkan, jika saat ini pasar apartemen masih belum seperti dulu, sehingga perlu perencanaan yang betul-betul matang.
Menanggapi kondisi ekonomi terkini yang dinamis, Anthony menyikapinya dengan optimis. "Menurut kami tidak lebih sulit dibandingkan pandemi kemarin. Waktu kita ambil alih proyek ini di tengah situasi pandemi. Kita sebagai pengusaha harus tangguh," katanya.
Menurutnya, strategi INPP dalam menghadapi tantangan tahun ini, khususnya di sektor perhotelan, adalah dengan tidak terlalu mengandalkan segmen MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition) dan government sector. "Hotel-hotel kami cukup stabil karena kita ga terlalu reliance sama government sector. Tim kita cukup agile," pungkasnya.